Minggu, 12 Oktober 2014

MENULIS DENGAN TINTA HATI



Assalamu’alaikum…
Guys… ketemu lagi nich dalam rubric artikel motivasi ane. Judul rubrik kali ini gak bikin kalian pada kaget kan? Hahahahaha… maklum, rubrik artikel kali ini judulnya kok malah ada kata “hatinya” yah? Ceeeeiiillleeeee….
Pasti nich bagi kalian yang lagi kasmaran atau hatinya lagi trouble gara-gara cinta akan beranggapan bahwa tulisan ini membahas tentang itu. Hadddeeewwwwhhh… kalau ada dari kalian yang berfikir kaya gitu dan memutuskan untuk tidak melanjutkan membacanya, rugi deh. Apalagi buat kalian yang sangat doyan nulis atau yang pengen banget menyalurkan ide kreatif dalam bentuk tulisan-tulisan. Artikel ini cocok banget untuk kalian baca. Yaaahhh… walau pun tipsnya gak neko-neko (susah) sesuai teori menulis yang sebenarnya tapi tisp yang akan kita bahas ini akan sangat membantu banget.
Guys… pernah denger lagu yang liriknya kaya gini gak :
“kehidupan ini bagai panggung sandiwara. Ada yang kocak, bikin kita tertawa terbahak-bahak.”
Kurang lebih syairnya kaya gitu kali yah. Yang di populerkan oleh salah satu artis ibu kota zaman dulu. Lagu ini jadi Top Hits ampe sekarang lho. Nah lho, ngomong-ngomong tentang kehidupan ini adalah panggung sandiwara. Ada benernya juga kan? Terkadang kita berperaan sebagi tokoh yang pemarah, egois, cepat tersinggung dan lain sebagainya. Pernah kepikiran untuk mengagendakan kisah hidup anda dalam sebuah cerita gak? Pasti pernah donk, tapi kadang untuk ungkapkan semuanya dalam bentuk tulisan itu adalah pekerjaan yang luar biasa menguras pikiran kan? Ya gak? Saya yakin hamper semua orang dilapisan bumi ini pasti akan kesulitan untuk menulis kisahnya dalm bentuk tulisan-tulisan. Masalahnya dimana? Padahal kan Cuma nulis doang… alat yang digunakan juga tidak sulit untuk mendapatkannya. Tinggal butuh kertas dan bolpoint atau kalau zaman sekarang sih lebih enak di tulis dalam file di laptop. Yaa gak? Itu pasti banget… tapi kita terkadang masih saja menulis dengan tangan yang tak mampu untuk kita gerakkan walau hanya untuk mendapatkan sebaris kalimat saja. Bagi saya itu wajar banget terjadi karena kita masih menekan diri dengan beban yang beranekaragam jumlahnya.
Baiklah guys… dari paparan yang diatas, saya akan memberikan satu tips menulis yang asyik dan insyaAllah tulisan kalian akan enak di baca oleh orang lain. Caranya adalah menulis dengan tinta hati… wadddduuuhhh… mbak yu, piye to? Gimana ceritanya bisa nulis dengan tinta hati? Emang hati kita itu kaya bolpoint yah? Huwwwaaaalllaaahhhh…. Piye to mbak? Kasi saran yang membangun donk….!!!
Weeiiiisshhhh…. Jangan marah gitu donk guys. Sebentar akan saya jelaskan tentang hal itu. Menulis dengan hati adalah salah satu cara menulis yang dilakukan dengan cara memposisikan diri sedang berbicara dengan kertas yang di tangan anda atau berbicara dengan lembar dokumen yang ada dalam file laptop anda. Kok bisa di kasi saran kaya gitu? Karena ketika kita menulis dengan beranggapan bahawa kita berbisa dengan seseorang maka kita akan menemukan titik relax dalam diri kita. Jika kita menulis dengan hati maka apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca akan cepat dimengerti. Karena kita menggunakan bahasa hati. Hati manusia itu pada hakikatnya adalah sama dengan bentuk yang sama pula dan tertanam dalam jiwa manusia. Maka itu untuk mendapatkan jawaban dari hati orang lain makan berbicaralah dengan hati kita dalam bentuk tulisan. Selain dapat menciptakan karya tulis yang asyik untuk di baca, ternyata secara tidak langsung ada terapi stress yang terjadi. Mau tau gak prosesnya gimana? Hehehehehe….
Menurut ilmu sains, ketika kita melakukan gerakan contohnya adalah gerakan menulis (gerakan tangan) kita. Maka saraf motorik akan menyampaikan pada sel-sel saraf yang ada di otak. Merangsang sel saraf stres dan sel saraf yang lainnya untuk menciptakan hormone dopamine atau hormone penenang dan meningkatkan hormone endorphine atau hormone bahagia. Sehingga ketika kita bisa menulis dengan tinta hati maka kita akan merasakan sesuatu yang berbeda mengalir dalam diri kita yang di sebabkan karena terciptanya hormone tersebut. Hehehehe…. Gitu kali yah analisis yang dapat saya sampaikan.
Oke guys… jadi menulis itu bukanlah hal yang rumit. Ooopppsss…. Bukan menulis biasa tapi yah. Maksudnya adalah menulis yang bermakna. Entah itu menulis cerpen,artikel,novel, atau karya tulis lainnya. Bagi pemula, ada baiknya membiasakan diri untuk bercerita lebih sering pada sebuah buku diary. Saya rasa tips itu akan bermakna.
Baiklah mungkin itu saja tulisan saya pada rubrik kali ini. Semoga bermanfaat yah… insyaAllah… amin yaa rabbal alamin… mari menulis dan jangan pernah segan untuk melakukan hal yang baru karena hal yang baru mungkin akan di cerca karena belum terbiasa maka biasakanlah hal baru maka akan menjadi budaya yang melekat dalam diri anda.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb…
Salam sang motivator… J J J

Kamis, 17 Juli 2014

SEMBUHKAN DIRIMU DENGAN PIKIRANMU



Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh…… :)
ukhti dan akhina kari rahimahullah….
Udah lama nich gak nge-post status motivasi. . . apa kabar semua nich? Semoga semua baik-baik saja. Amin yaa Rabbal alamin…
Oke saudara/I ku yang di ramhati Allah… status kali ini saya akan mengupas singkat tentang kesehatan nich. Pada penasaran kan????? Hihihi…… :D
InsyaAllah post status ini akan bermanfaat buat saudara/I semua… amin yaa Rabbal Alamin…
Ana baru saja merefresh pengetahuan nich tentang dunia kesehatandi Dr. ozzz Indonesia.. Alhamdulillah. . .  yang akan ana kaitkan dengan kondisi psikis kita.  
Ngomong-ngomong tentang kesehatan nich, teman-teman pasti pernah kan merasakan sakit? Sakit adalah dimana kondisi badan kita menurun karena antibody kita yang tak mampu untuk melawan zat asing yang masuk ke dalam tubuh kita. Saat anti bodi kita sudah menurun maka yang terjadi adalah tubuh akan terinfeksi oleh mikroba-mikroba pathogen.
Waddduuuhhhh…!!! Istilahnya saya gak ngerti mbak ayu? What is the pathogen n mikroba?
Hehehehehe…. Maaf… maaf… ke enakan pakai bahasa Bio biar agak keren dikit gitu lho.
Pathogen itu adalah bisa menimbulkan penyakit terhadap inangnya alias tubuh yang di tumpanginya untuk hidup. Nah mikroba itu adalah makhluk-makhluk kecil yang tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang. Misalnya, virus, bakteri, dan kuman penyakit. Begggeeetttooo….!!! :)
Oke next…
Namun, ternyata tidak semua penyakit yang di derita oleh tubuh kita itu di sebabkan oleh mikroba yang imud – imud nan lucu itu lho… Lha trus apalagi donk  penyebabnya? Ada banyak hal yang dapat menyebabkan penyakit, lebih tepatnya yang dapat memperparah kondisi tubuh itu. Hal yang paling berpengaruh adalah factor stress atau pikiran. Tau gak? Di dalam otak kita terdapat berjuta-juta gsel saraf yang berfungsi untuk mengirim semua informasi yang di terima oleh tubuh. Termask juga ketika kita terlalu kepikiran dengan berbagai jenis masalah maupun beban kehidupan kita. Otak pun akan mengirim ke sel saraf stress sehingga kita pun merasakan pusing tak terhingga. Apalagi jika seseorang yang bermasalah itu adalah penderita magh. Maka sel saraf stress akan mengirim stimulus pada lambung untuk memproduksi HCL dalam jumlah banyak. Jika stress trus menerus maka perlahan HCL akan  menggerus dinding lambung atau sering di sebut dengan penyakit Gastritis (tukak lambung).
Oke next…
Lantas apa kaitannya penyakit dengan kondisi psikis kita? Coba sejenak, pejamkan mata dan kembalikan kondisi focus pikiran kita. Abaikan sejenak semua beban yang sempat mampir di pikiran kita. Kemudian Tanya, apa yang salah pada diri saya? Beri kesempatan pada otak untuk memikirkan semua itu. Jika sudah menemukan jawabannya, simpan jawaban itu dan lanjutkan pertanyaan kedua yaitu, selama ini apa yang benar pada diri saya? Berikan kesempatan kembali pada otak untuk berfikir dan focus pada pertanyaan itu. Lanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah ada pada diri anda kemudian jawab sendiri pertanyaan itu. Ajak diri anda untuk berdialog….
Oke antum/antuna yang di rahmati Allah SWT…
Sekarang coba deh pikirkan, saat anda terkapar lemkas tak berdaya. Pasti  akan sangat mudah bagi anda untuk berfikir negative tentang banyak hal. Yang paling sering terjadi adalah anda sering berfikir bahwa orang-orang terdekat anda tidak saying lagi. Yaaaa gak????? Apalagi nich yang masih belum berkeluarga atau orang-orang yang…. Maaaff sudah lanjut usia. Akan sangat mudah baginya untuk menghadirkan pikiran-pikiran yang pastinya akan mengaktifkan sel saraf stress untuk beraksi lebih baik tuh.
Nah sekarang udah tau kan gimana kesehatan juga bisa di pengaruhi oleh pikiran kita?
Mbak ayu… lantas gimana caranya kita mengendalikan pikiran kita agar kita bisa sehat terus. Sehat itu mudah, pakai rumus Good Mind + keep smile  = keep peace your heart……. Hihihihi… :D
Sedikit tips buat kalian yang rentan kena stress dan berakibat vatal terhadap kondisi tubuh kalian. Jika sedang di hadapkan dengan suatu masalah, diam sejenak dan lakukan treatment berfikir dulu sebelum kamu mengizinkan pikiran mu untuk mempengaruhi saraf motorik mu untuk bertindak. Jika kamu adalah orang yang grasak grusuk saat ambil tindakan, kamu harus siapkan hati dan mental mu untuk kecewa dengan jawaban yang tidak sesuai dengan harapan kamu. Kamu harus terbuka terhadap kritik dan saran yang di sampaikan orang lain. Boleh saja menerima tapi jangan hanya menerima semuanya full.
Nah, bagi kalian yang udah kena sakit… coba deh lakukan treatment sugesti  saraf biar bisa mengendalikan penyakitnya sendiri… yaaaaa tentunya gak akan langsung sembuh kaya orang main sulap… tapi paling gak bisa merespon sel saraf untuk memproduksi antibody yang lebih banyak.
Mungkin itu dulu kali yah yang bisa ana sampaikan…. :)
Jika ada kritik,saran, atau pertanyaan… langsung koment ajach yah….


Wassalamu’alaikum Warohmatullah hiwabarokatuh… :) :) :)

Selasa, 03 Desember 2013

FATAMORGANA CINTA (Bidadari Komputer)



Ujian nasional  siswa di sekolah tempatku mengajar  telah usai. Lega rasanya hari yang telah lama ku nanti telah tiba. Sekarang saatnya aku mulai merancang peta kehidupanku yang mulai usang, karena ku terus dikejar dateline computer yang sudah menjadi asupan gizi diotakku.  Aku adalah mahasiswa lulusan FKIP Bahasa Inggris di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Lombok. Sesuai dengan rencana awal ku pada tahun ini aku akan melanjutkan sekolah S2 ku. Saat ini tak ada yang istimewa bagi ku. Yang ada dalam benakku adalah bagaimana aku bisa menyelesaikan sekolahku sampai mendapat title Dr di depan namaku. Itu lah harapan almarhum Kakek ku yang belum genap tiga bulan telah meninggalkan ku menghadap sang Khalik.
“Ding… dong…” suara HP ku berbunyi lama, tandanya ada telpone masuk
Seperti biasa aku tak pernah langsung mengangkat HP ku yang bernyanyi merangsang saraf ku untuk memencet tombol OK untuk menerima panggilan tersebut. Entah berapa kali HP itu berbunyi,  ku tak tau. Aku asyik memandang layar laptop ku, yang kian detik semakin membuatku tergoda dan membuatku tak ingin jauh darinya. Jangankan hanya mengangkat panggilan yang masuk, untuk makan pun aku sering lalai hingga sakit magh yang memang telah merajang dalam  tubuhku sering kumat. Namun atas saran dari seseorang yang mengaku sangat sayang dan care pada ku menyarankan aku untuk minum suplemen, terkait dengan kebiasaan ku yang selalu bergadang menikmati indahnya kedipan laptop ku yang selalu setia menemaniku, menghiburku ketika pikiran ku kalut, dan memberikan pengharapan ketika harapan ku dalam hidup mulai memudar. Aku pun mengikuti sarannya itu dan hasilnya sakit ku tak terlalu aku rasakan lagi. Lama ku selesaikan permainan trik dalam computer yang ada dihadapan ku. Teman ku  Reza  yang ada diruangan acces internet yang melihat HP ku berbunyi menegurku.
“ Farid…” HP kamu bunyi terus. Kenapa gak kamu angkat? Kali saja ada hal penting yang akan disampaikan sama orang yang menelpon mu itu. Atau mungkin Hamida yang menelpon mu. “
Teman ku itu mengolok ku. Hamida memang adalah sosok gadis yang smart, religious, perfect banget dech. Mendengar teguran dari teman ku itu spontan tangan ku menarik HP yang ada dimeja dekat tempatku duduk. Ku lihat ada lima panggilan tak terjawab, ku lihat nama yang tertera diHP ku memang Hamida. Aku terdiam dan menggelengkan kepala ku melihat nama itu.
“Mengapa harus dia? Apa maunya sih anak ni?” gumam ku dalam hati
Semua insting mulai berdebat dalam otak ku. Semuanya campur aduk. Memang itulah aku adanya. Ketika masalah cewek datang menghampiri hidup ku, itu adalah hal yang paling menakutkan yang pernah aku bayangkan dalam hidup ku. Bukannya aku tak menyukai sosok terindah yang pernah memperjuangkan nyawanya hingga aku bisa hadir dimuka Bumi ini. Namun, karena aku sangat mencintai dan menghormati kodrat mereka yang begitu mulia disisi Tuhan.
Hamida adalah seorang mahasiswi yang baru aku kenal dua bulan yang lalu. Dia adalah cewek yang sangat teguh pada prinsipnya. Dia tak mau goyah ketika dia memiliki suatu hal yang ia yakini baik baginya. Aku sangat salut padanya. Dia bukanlah sosok cewek yang pintar saja tapi dia sangat cerdas. Aku mengenalnya karena dia adalah adik dari temanku bekerja disekolah tempatku mengajar. Dia  sangat berbeda dengan Kakaknya. Kakaknya adalah sosok laki-laki yang gentle. Namun pemikirannya masih terbatas. Adiknya, Hamida lebih dewasa daripada dia. Aku gak pernah menyangka gadis seumuran dia bisa mempunyai kosakata hidup yang dapat membangun kiprah semangat orang yang ada disekitarnya.
Namun entah mengapa setelah beberapa kali bertemu dengannya kami terasa sangat kaku untuk mengucap sepucuk kalimat pembuka. Aku hanya bisa terdiam saja ada didekatnya. Begitu pun dia, dia yang terlihat seperti sosok cewek yang ceria terlihat begitu berbeda ketika ada didekat ku. Entahlah, aku tak tau mengapa? Aku pun tak pernah berani untuk mencari tahu tentang hal itu karena aku takut buat dia malu dan merasa kecewa pada ku. Akhirnya, yang bisa aku lakukan ketika ada didekatnya hanyalah tersenyum dan asyik dengan laptop yang ada dihadapan ku. kami berdua memang sering bertemu ditempat warnet tak jauh dari rumah ku, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki kok.
Tiap kali Hamida bertemu dengan ku, dia selalu saja mengambil posisi duduk jauh dari ku. aku juga tak mengerti akan hal itu. walaupun aku selalu diam melihat apa yang dia lakukan, aku diam-diam memperhatikannya. Dalam hatiku, terasa ada sesuatu yang sangat ingin aku ungkap. Namun, masih tak mungkin untuk aku lakukan karena ku tau Hamida adalah gadis baik hati yang aku pun tak pernah mampu mengukur kebaikan yang ia miliki.
Aku dan Hamida memang sering saling hubungi melalui sms atau pun telpon. Namun, mengapa aku merasa sikap Hamida terhadapku mulai berlebihan. Dia mengaku bahwa dia mencintai ku, padahal kami baru saja beberapa hari bertemu pandang. Aku sangat bingung mengapa dia bisa mencintai ku dalam waktu yang sesingkat itu. aku selalu menepis semua itu. aku tak ingin semua yang aku alami tahun lalu bersama mantan pacarku itu terulang padanya. Dia tak pantas untuk ku sakiti. Semenjak aku mengetahui bahwa dia mempunyai rasa itu, aku mulai menghindar darinya. Sebisa mungkin aku memberikan dia stimulus untuk membenciku, meski aku tak pernah ingin kan itu. sebenarnya aku merasa bersalah padanya. Namun, itulah jalan yang terbaik yang harus aku lakukan karena aku sampai saat ini masih belum mampu untuk menjadi yang terbaik untuk seorang wanita yang mencintaiku.
Lama ku termangu memegang HP ku, sambil memencet tombol laptop dengan penuh kehampaan. Pikiran ku melayang, menerawang ke dimensi kehidupanku yang lalu. Bayangan tentang Ningsih, mantan pacar ku bergelayut mesra dikornea mataku. Aku teringat akan kisah ku, ketika aku bersamanya. Dia begitu sabar menghadapiku,yang tak pernah punya waktu banyak untuk memberi perhatian padanya. Yang ku tahu hanyalah, bagaimana aku harus membina hidup ku dan menyelsaikan kuliah S1 ku. Dia begitu setia pada ku, sangat pengertian, dan dia selalu memberikanku motivasi untuk terus berjuang. Tanpa pernah aku sadari, bahwa dibalik semua itu tersimpan suatu rasa rindu yang mendalam padanya. Aku tak pernah mampu menerawang semua yang dia rasakan, karena aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak pernah memberikan kesempatan sedikit pun padanya, untuk menceritakan tentang perasaannya pada ku. yang ku tahu hanyalah aku saat ini yang butuh bercerita padanya. Tapi dia tak pernah protes akan apa yang aku lakukan terhadapnya. Dia selalu menjadi pendengar yang baik bagi ku. Bagiku dia bukan hanya sekedar pacar, tapi dia adalah sosok wanita yang selalu ku rindukan dalam setiap rute kehidupan yang aku jalani.  Hingga suatu hari, hal yang tak pernah aku sangka terjadi. Setelah beberapa hari aku tak pernah bertemu dan saling hubungi dengannya. Dia menelpon ku untuk bertemu. Aku tak tau apa yang terjadi. Baru saat ini dia memberanikan diri untuk berbicara sserius pada ku.
“Assalamualaikum…” Farid aku ingin bertemu dengan mu. Apakah kau punya sedikit waktu untuk menyempatkan diri bertemu dengan ku? ada hal yang ingin aku sampaikan. “
Itulah kata yang dia ucapkan pada ku via telpon. Aku tak sempat berkata apa pun, dia langsung menutup telponenya. Akhirnya, ku sempatkan diri untuk datang menemuinya. Jantung ku berdebar sangat keras. Berkali-kali ku hela nafasku panjang-panjang ketika dalam perjalanan. Otakku yang semula terisi oleh file computer dan peta kehidupanku, telah terback up sejenak dan tergantikan oleh file tentang Ningsih. Beribu file negative yang hadir karena virus gelisah dalam diriku mulai menyerang otak ku. Segera ku tepis semua itu. Namun, tetap saja semuanya memenuhi folder dalam memoryku.
Sampailah aku ditempat kami berjanji bertemu. Ku lihat Ningsih begitu cantik dan anggun dengan busana muslim yang membalut tubuhnya yang indah itu. sebelumnya, tak pernah ku lihat dia menggunakan gaun indah nan sopan itu. yang lebih membuat ku kaget adalah sosok laki-laki yang ada disampingnya itu, laki-laki itu tak asing bagiku. Laki-laki penuh wibawa dan selalu menjadi inspirasi banyak orang. sejenak otak ku mulai aku refresh saat mulai mendekati mereka. Aku tak mau terlihat galau dihadapan mereka.
“ Assalamualaikum…”
Ucapan salam ku yang begitu santai memecah keheningan diantara mereka yang dari tadi hanya duduk diam saling pandang. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka sebelum aku datang. Mungkin mereka merancang kata yang akan mereka katakan padaku. Mereka pun menjawab salam ku.
“Waalaikumussalam… silahkan duduk.”
Mereka mempersilakan ku duduk ditengah-tengah mereka. Ternyata laki-laki yang tak asing itu tak lain adalah dosen muda di Perguruan Tinggi tempatku kuliah. Benar dugaan ku. Meraka saling pandang dan mengedipkan matanya. Aku hanya terdiam dan memandang mereka dengan rasa yang mulai tak karuan. Namun semuanya aku sembunyikan dengan senyuman.
“ Ningsih…” ada apa sebenarnya? Ayo sampaikan apa yang ingin kau sampaikan. ”
Aku mulai membuka pembicaraan. Karena ku lihat mereka seakan tak mampu untuk berbicara pada ku. serumit itukah prmasalahan yang mereka ingin sampaikan padaku? Lama ku menanti suara mereka keluar. Akhirnya, Ningsih dengan terbata-bata mulai berbicara. Dia mengenalkan ku pada laki-laki itu dan menyampaikan tujuan mereka mengundang ku datang.
“ Kak,” perkenalkan ini adalah Pak Ridho Dosen yang mungkin Kakak juga sudah mengenalnya. Pak perkenalkan ini adalah Farid yang sering aku ceritakan pada Bapak. “
Aku dan Pak Ridho saling berjabat tangan dan Pak Ridho serta merta memeluk ku dengan penuh rasa persahabatan. Aku sebenarnya bingung.
“Ada apa sebenarnya? “
Tanya itu terus menghantui pikiran ku. menjadi virus yang terus mampu memback up dirinya berulang-ulang, walau aku berikan antivirus handal. Ruangan kafe tempat kami bertemu itu sejenak hening padahak tempat itu begitu ramai pengunjung. Kami bertiga saling pandang memainkan bola mata yang entah didalamnya terekam suatu reka masalah yang ingin disampaikan. Sesaat bola mataku bertemu dengan bola mata Ningsih. Matanya yang dihiasi bulu mata yang lentik membuatnya tambah jelita ku pandang, sore itu. Tak bosan aku ingin memandangnya. Namun semua itu aku sembunyikan karena rasa gengsi yang memang selalu merajam dalam jiwa ku. sulit bagi ku untuk mengakui keindahan yang suatu saat akan membunuh ku secara perlahan karena keindahannya.
“ Farid… Apakah kau mencintai Ningsih? “
Pertanyaan dari Pak Ridho membuyarkan khayalan ku. Mata ku terbelalak dan spontan ku telan ludah ku dalam-dalam.
“Iya Pak…” aku sangat mencintai Ningsih. “
Aku menjawab sedikit gugup. Pertanyaan itu semakin membuat pertanyaan baru terus menjamur dalam otak ku. Apa sebenarnya maksud Ningsih dengan semua ini. Apakah ada hal yang salah yang pernah aku perbuat terhadapnya hingga dia harus membawa ku kehadapan Pak Ridho Guru Besar yang sangat aku segani karena pemikiran hidupnya yang penuh dengan aplikasi disegala bidang termasuk Bidang Computer yang menjadi salah satu hobi ku itu. aku seperti orang bodoh yang kehilangan ideologinya saat itu.
“Aku kesini untuk mendengarkan apa yang akan mereka ucapkan pada ku. apa pun itu aku harus siap menerimanya. “
Ku kuatkan diriku dengan kata-kata itu. sesekali aku tersenyum pada mereka untuk menghilangkan ke kakuan yang mulai terasa. Sedang Ningsih hanya tertunduk diam menyimak apa yang akan diucapkan Pak Ridho, seakan menanti suatu kalimat handal yang mematikan bagi ku. satu jam sudah kami duduk dikafe itu. ku teguk minuman fanta menyegarkan. Merangsang saraf semangat ku untuk tetap bisa tegar ketika layu mulai menyapa ku. Mereka pun mengikuti meneguk minuman cuppucino yang tadi mereka pesan. Ku lihat samar-samar Ningsih menatap Pak Ridho dengan pandangan yang begitu dalam penuh makna. Seolah mengisyaratkan padanya untuk segera berbicara. Ningsih pun mulai menggerakkan bibir merah muda yang terbalut lipstick, indah sekali ku lihat.
“ Kak Farid,” sebenarnya saya dan Pak Ridho ingin menyampaikan bahwa kami berdua telah bertunangan. Dan setelah wisuda nanti, kami akan melangsungkan pernikahan. Saya tau mungkin ini adalah suatu keputusan yang tak adil bagi Kak Farid, tapi aku telah menemukan orang yang mampu mengerti aku,memahami ingin ku, dan bisa ada disaat aku butuh bersandar menitipkan duka ku walau hanya sejenak saja. Terima kasih atas sebuah pengalaman berharga yang pernah Kakak berikan pada ku, melalui sesayat senyuman yang tak pernah tertuju pada ku. Kakak adalah orang yang sangat baik. Aku mengambil keputusan ini bukan karena Kakak tak baik untukku tapi kakak adalah amanah kehidupan untuk diri Kakak sendiri yang nantinya akan diamanahkan pada orang yang berhak mendapatkan amanah itu untuk kakak.  Ku harap Kakak bisa menerima keputusan ku ini dengan tangan terbuka dan penuh keikhlasan. Ku tahu Kakak adalah laki-laki yang kuat, mampu menerjang aral yang ada layaknya virus yang terus mampu bereflikasi, menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Ku yakin suatu saaat Kakak akan temukan orang yang jauh lebih amanah dibandingkan aku. “
Begitu indah kenyataan yang dia ucapkan itu. tak terasa air mata ku menetes dipipi ku. Itu untuk pertama kalinya aku meneteskan air mata untuk seorang wanita yang hadir dalam hidup ku. Aku tak pernah menyangka dia yang selalu menjadi motivasiku dan hanya bisa tersenyum melihatku dari kejauhan mampu sebijak itu dalam mengambil keputusan yang pasti sangat sulit untuk dia ambil, aku salut padanya. Meskipun sesungguhnya hati terasa tertusuk duri kaktus raksasa. Tapi itu tak jadi masalah bagiku karena ku yakin akan satu hal bahwa pilihannya saat itu adalah pilihan yang tepat. aku pun berusaha untuk tersenyum dihadapan mereka meskipun air mata ku terus menetes hingga terlihat genangannya dimeja itu. Pak Ridho menepuk bahu ku, tak ada ku lihat rasa kemenangan yang tersunging diwajahnya yang tampan itu. dia malah seolah ingin memberikan ku kekuatan dan keyakinan bahwa keputusan hari ini tak seburuk keputusan yang nanti aku akan temui.
“Farid…” ku tahu kau mencintai Ningsih. Aku pun sangat mencintainya. Dia juga mencintaimu dengan keihlasan hatinya. Namun, apakah kau tau mengapa dia bisa mengambil keputusan yang sulit ini? Dia mampu mengambil keputusan ini karena rasa cintanya padamu yang begitu besar. Aku tak menyalahkan mu akan sikap yang selama ini kau sematkan dalam hidup Ningsih. Karena ku yakin akan satu hal bahwa kau sebenarnya masih merancang kehidupan mu yang masih menerawang asa yang tak kunjung kau temui. Tak ada orang yang jahat didunia ini hanya saja tiap individu yang hidup dan masih mampu bernafas dengan nafas hidup yang sesungguhnya mempunyai target hidup yang berbeda-beda yang selalu ingin dipenuhi dengan berbagai cara. Kau adalah laki-laki yang kuat. Aku yakin akan hal itu. maka itu izinkanlah aku dan Ningsih mengikat cinta ku dan cintanya dengan cinta mu dalam suatu ikatan bahtera rumah tangga.”
Ku hanya terdiam dan terus meneteskan air mata ku. Aku tak tau entah apa makna air mata yang menetes deras ini. Entah rasa haru, bahagia, ataukah rasa mengasihani diriku. Aku tak bisa ungkapkan apa yang tertera dalam hatiku saat itu. Yang ku tahu hanyalah saat ini aku sedang belajar mengenal kehidupan dan mengenal diri ku melalui orang-orang bijak yang dikirimkan Tuhan untuk ku. Aku sangat bahagia melihat dia akan bersanding dengan orang yang bisa membawanya ke kehidupan yang layak dan harmonis. Pak Ridho berdiri dari duduknya dan memeluk ku erat sekali dan diciumnya ubun-ubunku dengan penuh rasa sayang. Aku sangat bahagia bertemu orang-orang seperti mereka.
 Masalah cinta yang banyak diselesaikan oleh banyak remaja dengan kekerasan dan perdebatan argument yang berkepanjangan hingga membuat tali silaturrahim terputus tak berlaku lagi dalam prinsip hidup ku. aku merasa sangat dihargai oleh mereka berdua. Tak heran, ku lihat Ningsih mengenakan gaun itu. Dia memang pantas aku berikan title seorang muslimah soleha. Cinta mereka dilandaskan pada agama yang kokoh dan komitmen yang kuat untuk membina bahtera rumah tangga yang bahagia dunia dan akhirat. Setelah lama aku larut dalam tangisan ku itu. aku pun mulai menyisipkan senyuman dibibirku yang lembab karena air mata ku. ku lihat Ningsih juga meneteskan air matanya dengan senyuman yang aku tak tau maknanya. Mungkin dia merasa bahagia berada disamping Pak Ridho dengan ikatan cinta yang akan aku sematkan pada mereka berdua. ku lihat lagi Pak Ridho matanya berkaca-kaca seolah ingin menitikkan air matanya juga. Namun Pak Ridho adalah orang yang tangguh dan sangat bijaksana, pantang baginya meneteskan air mata.
“Ningsih…” ku berikan cintaku ini untuk kau jadikan pengikat cinta mu pada Pak Ridho. Mulai saat ini aku hanyalah sahabat untuk mu yang akan selalu ada untuk mu jika kau membutuhkanku. Pak Ridho, Bapak adalah orang yang sangat aku hormati dan aku hargai. Aku menyerahkan cinta ku bukan karena kedudukan bapak. Tapi aku memberikan ini karena aku yakin bapak adalah imam yang baik untuk Ningsih. Hari ini aku belajar menjadi orang ikhlas dari keihlasan kalian menerimaku dalam cinta yang kalian miliki walau itu hanyalah sebuah fatamorgana yang tak dapat kita tembus dengan mesin waktu sekalipun. “
Setelah berkata demikian aku pun meraih tangan kanan Ningsih dan Pak Ridho. Ku satukan mereka diatas telapak tangan ku sebagai suatu symbol bahwa aku telah mengizinkan mereka bersama dan mengikhlaskan Ningsih bersama cintanya itu. mereka berdua menatap ku dengan pandangan penuh pancaran kasih sayang dalam rahmat Tuhan yang maha agung. Setelah itu aku pun berpamitan pada mereka berdua tepat pukul 19.00 malam karena waktu maghrib telah tiba. Aku menuju ke Masjid dekat kafe itu untuk melaksanakan sholat Magrib dan kemudian usai sholat aku melanjutkan dateline yang telah menantiku.
Sejak itu aku pun tak pernah berani memberikan cinta ku pada yang lain. Aku tak mau mencintai mereka jika aku belum siap untuk mencintai dengan segala kelebihan dan kurang yang aku miliki. Hampir dua tahun sudah pristiwa itu berlalu dan selama itu pula aku tak pernah mengenal yang namanya pacaran lagi. Meskipun sebenarnya hasrat untuk mempunyai orang yang ku cintai dan mencintaiku masih ada dalam diri. Namun aku selalu berusaha untuk menekan semuanya karena aku tak mau ada yang terluka lagi.
Segera ku tersadar dari lamunanku tentang ningsih yang memang tak pernah dapat aku hilangkan dari memory otak ku.
“Itu adalah masa laluku yang harus aku jadikan pelajaran hidup. Tapi bukan malah sebaliknya. Aku tak sepantasnya menjadikan kegagalan yang aku alami menjadi penghalang langkahku dalam mencari cinta yang terus terukir indah bak fatamorgana yang ada dipadang pasir. Begitu menggiurkan namun untuk sampai ketempat itu sungguh hal yang penuh dengan jalan yang bertubi-tubi, dan belum tentu apa yang kita lihat itu sama dengan kenyataan yang ada.”
Tiba-tiba terlintas senyuman indah Hamida dihadapan ku. kasihan dia pikir ku. Padahal aku juga mencintainya tapi hanya karena ego ku aku tak bisa mencintainya. Begitu banyak air matanya yang telah terbuang percuma, karena dia tak mampu menampung cinta yang begitu besar untukku.  Maafkan aku Hamida. Suatu saat ketika aku sudah kembali ku akan menjemputmu dengan membawa bingkisan cita-cita yang telah aku raih. Cinta ku akan aku hadiahkan pada mu. Bukan cinta fatamorgana tapi cinta yang benar-benar cinta yang berlandaskan iman dan takwa.
”Ku mencintai mu karena cita-cita dan kau mencintai ku untuk menggapai cita-cita.“