Ujian nasional siswa di sekolah tempatku mengajar telah usai. Lega rasanya hari yang telah lama
ku nanti telah tiba. Sekarang saatnya aku mulai merancang peta kehidupanku yang
mulai usang, karena ku terus dikejar dateline
computer yang sudah menjadi asupan gizi diotakku. Aku adalah mahasiswa lulusan FKIP Bahasa Inggris di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Lombok.
Sesuai dengan rencana awal ku pada tahun ini aku akan melanjutkan sekolah S2 ku. Saat ini tak ada yang istimewa
bagi ku. Yang ada dalam benakku adalah bagaimana aku bisa menyelesaikan
sekolahku sampai mendapat title Dr di
depan namaku. Itu lah harapan almarhum Kakek ku yang belum genap tiga bulan
telah meninggalkan ku menghadap sang Khalik.
“Ding…
dong…” suara HP ku berbunyi
lama, tandanya ada telpone masuk
Seperti biasa aku tak pernah langsung
mengangkat HP ku yang bernyanyi
merangsang saraf ku untuk memencet tombol OK
untuk menerima panggilan tersebut. Entah berapa kali HP itu berbunyi, ku tak tau. Aku asyik memandang layar laptop
ku, yang kian detik semakin membuatku tergoda dan membuatku tak ingin jauh
darinya. Jangankan hanya mengangkat panggilan yang masuk, untuk makan pun aku
sering lalai hingga sakit magh yang memang telah merajang dalam tubuhku sering kumat. Namun atas saran dari
seseorang yang mengaku sangat sayang dan care
pada ku menyarankan aku untuk minum suplemen, terkait dengan kebiasaan ku
yang selalu bergadang menikmati indahnya kedipan laptop ku yang selalu setia
menemaniku, menghiburku ketika pikiran ku kalut, dan memberikan pengharapan
ketika harapan ku dalam hidup mulai memudar. Aku pun mengikuti sarannya itu dan
hasilnya sakit ku tak terlalu aku rasakan lagi. Lama ku selesaikan permainan trik
dalam computer yang ada dihadapan ku. Teman ku
Reza yang ada diruangan acces internet yang melihat HP ku
berbunyi menegurku.
“
Farid…” HP kamu bunyi terus. Kenapa gak kamu angkat? Kali saja ada hal penting
yang akan disampaikan sama orang yang menelpon mu itu. Atau mungkin Hamida yang
menelpon mu. “
Teman ku itu mengolok ku. Hamida memang
adalah sosok gadis yang smart, religious,
perfect banget dech. Mendengar teguran dari teman ku itu spontan tangan ku
menarik HP yang ada dimeja dekat tempatku duduk. Ku lihat ada lima panggilan tak
terjawab, ku lihat nama yang tertera diHP ku memang Hamida. Aku terdiam dan
menggelengkan kepala ku melihat nama itu.
“Mengapa
harus dia? Apa maunya sih anak ni?” gumam ku dalam hati
Semua insting mulai berdebat dalam otak ku. Semuanya campur aduk. Memang
itulah aku adanya. Ketika masalah cewek datang menghampiri hidup ku, itu adalah
hal yang paling menakutkan yang pernah aku bayangkan dalam hidup ku. Bukannya
aku tak menyukai sosok terindah yang pernah memperjuangkan nyawanya hingga aku
bisa hadir dimuka Bumi ini. Namun, karena aku sangat mencintai dan menghormati
kodrat mereka yang begitu mulia disisi Tuhan.
Hamida adalah seorang mahasiswi yang
baru aku kenal dua bulan yang lalu. Dia adalah cewek yang sangat teguh pada
prinsipnya. Dia tak mau goyah ketika dia memiliki suatu hal yang ia yakini baik
baginya. Aku sangat salut padanya. Dia bukanlah sosok cewek yang pintar saja
tapi dia sangat cerdas. Aku mengenalnya karena dia adalah adik dari temanku
bekerja disekolah tempatku mengajar. Dia
sangat berbeda dengan Kakaknya. Kakaknya adalah sosok laki-laki yang gentle. Namun pemikirannya masih
terbatas. Adiknya, Hamida lebih dewasa daripada dia. Aku gak pernah menyangka
gadis seumuran dia bisa mempunyai kosakata hidup yang dapat membangun kiprah
semangat orang yang ada disekitarnya.
Namun entah mengapa setelah beberapa
kali bertemu dengannya kami terasa sangat kaku untuk mengucap sepucuk kalimat
pembuka. Aku hanya bisa terdiam saja ada didekatnya. Begitu pun dia, dia yang
terlihat seperti sosok cewek yang ceria terlihat begitu berbeda ketika ada
didekat ku. Entahlah, aku tak tau mengapa? Aku pun tak pernah berani untuk mencari
tahu tentang hal itu karena aku takut buat dia malu dan merasa kecewa pada ku.
Akhirnya, yang bisa aku lakukan ketika ada didekatnya hanyalah tersenyum dan
asyik dengan laptop yang ada dihadapan ku. kami berdua memang sering bertemu
ditempat warnet tak jauh dari rumah ku, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki kok.
Tiap kali Hamida bertemu dengan ku, dia
selalu saja mengambil posisi duduk jauh dari ku. aku juga tak mengerti akan hal
itu. walaupun aku selalu diam melihat apa yang dia lakukan, aku diam-diam
memperhatikannya. Dalam hatiku, terasa ada sesuatu yang sangat ingin aku
ungkap. Namun, masih tak mungkin untuk aku lakukan karena ku tau Hamida adalah
gadis baik hati yang aku pun tak pernah mampu mengukur kebaikan yang ia miliki.
Aku dan Hamida memang sering saling
hubungi melalui sms atau pun telpon. Namun, mengapa aku merasa sikap Hamida
terhadapku mulai berlebihan. Dia mengaku bahwa dia mencintai ku, padahal kami
baru saja beberapa hari bertemu pandang. Aku sangat bingung mengapa dia bisa
mencintai ku dalam waktu yang sesingkat itu. aku selalu menepis semua itu. aku
tak ingin semua yang aku alami tahun lalu bersama mantan pacarku itu terulang
padanya. Dia tak pantas untuk ku sakiti. Semenjak aku mengetahui bahwa dia
mempunyai rasa itu, aku mulai menghindar darinya. Sebisa mungkin aku memberikan
dia stimulus untuk membenciku, meski aku tak pernah ingin kan itu. sebenarnya
aku merasa bersalah padanya. Namun, itulah jalan yang terbaik yang harus aku
lakukan karena aku sampai saat ini masih belum mampu untuk menjadi yang terbaik
untuk seorang wanita yang mencintaiku.
Lama ku termangu memegang HP ku, sambil memencet tombol laptop
dengan penuh kehampaan. Pikiran ku melayang, menerawang ke dimensi kehidupanku
yang lalu. Bayangan tentang Ningsih, mantan pacar ku bergelayut mesra dikornea
mataku. Aku teringat akan kisah ku, ketika aku bersamanya. Dia begitu sabar
menghadapiku,yang tak pernah punya waktu banyak untuk memberi perhatian
padanya. Yang ku tahu hanyalah, bagaimana aku harus membina hidup ku dan menyelsaikan
kuliah S1 ku. Dia begitu setia pada ku, sangat pengertian, dan dia selalu
memberikanku motivasi untuk terus berjuang. Tanpa pernah aku sadari, bahwa
dibalik semua itu tersimpan suatu rasa rindu yang mendalam padanya. Aku tak
pernah mampu menerawang semua yang dia rasakan, karena aku terlalu sibuk dengan
diriku sendiri. Aku tak pernah memberikan kesempatan sedikit pun padanya, untuk
menceritakan tentang perasaannya pada ku. yang ku tahu hanyalah aku saat ini
yang butuh bercerita padanya. Tapi dia tak pernah protes akan apa yang aku
lakukan terhadapnya. Dia selalu menjadi pendengar yang baik bagi ku. Bagiku dia
bukan hanya sekedar pacar, tapi dia adalah sosok wanita yang selalu ku rindukan
dalam setiap rute kehidupan yang aku jalani.
Hingga suatu hari, hal yang tak pernah aku sangka terjadi. Setelah beberapa
hari aku tak pernah bertemu dan saling hubungi dengannya. Dia menelpon ku untuk
bertemu. Aku tak tau apa yang terjadi. Baru saat ini dia memberanikan diri
untuk berbicara sserius pada ku.
“Assalamualaikum…”
Farid aku ingin bertemu dengan mu. Apakah kau punya sedikit waktu untuk
menyempatkan diri bertemu dengan ku? ada hal yang ingin aku sampaikan. “
Itulah kata yang dia ucapkan pada ku via
telpon. Aku tak sempat berkata apa pun, dia langsung menutup telponenya.
Akhirnya, ku sempatkan diri untuk datang menemuinya. Jantung ku berdebar sangat
keras. Berkali-kali ku hela nafasku panjang-panjang ketika dalam perjalanan.
Otakku yang semula terisi oleh file computer dan peta kehidupanku, telah
terback up sejenak dan tergantikan oleh file tentang Ningsih. Beribu file
negative yang hadir karena virus gelisah dalam diriku mulai menyerang otak ku. Segera
ku tepis semua itu. Namun, tetap saja semuanya memenuhi folder dalam memoryku.
Sampailah aku ditempat kami berjanji
bertemu. Ku lihat Ningsih begitu cantik dan anggun dengan busana muslim yang
membalut tubuhnya yang indah itu. sebelumnya, tak pernah ku lihat dia
menggunakan gaun indah nan sopan itu. yang lebih membuat ku kaget adalah sosok
laki-laki yang ada disampingnya itu, laki-laki itu tak asing bagiku. Laki-laki
penuh wibawa dan selalu menjadi inspirasi banyak orang. sejenak otak ku mulai
aku refresh saat mulai mendekati mereka. Aku tak mau terlihat galau dihadapan
mereka.
“
Assalamualaikum…”
Ucapan salam ku yang begitu santai
memecah keheningan diantara mereka yang dari tadi hanya duduk diam saling
pandang. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka sebelum aku datang. Mungkin
mereka merancang kata yang akan mereka katakan padaku. Mereka pun menjawab
salam ku.
“Waalaikumussalam…
silahkan duduk.”
Mereka mempersilakan ku duduk
ditengah-tengah mereka. Ternyata laki-laki yang tak asing itu tak lain adalah
dosen muda di Perguruan Tinggi tempatku
kuliah. Benar dugaan ku. Meraka saling pandang dan mengedipkan matanya. Aku
hanya terdiam dan memandang mereka dengan rasa yang mulai tak karuan. Namun
semuanya aku sembunyikan dengan senyuman.
“
Ningsih…” ada apa sebenarnya? Ayo sampaikan apa yang ingin kau sampaikan. ”
Aku mulai membuka pembicaraan. Karena ku
lihat mereka seakan tak mampu untuk berbicara pada ku. serumit itukah
prmasalahan yang mereka ingin sampaikan padaku? Lama ku menanti suara mereka
keluar. Akhirnya, Ningsih dengan terbata-bata mulai berbicara. Dia mengenalkan
ku pada laki-laki itu dan menyampaikan tujuan mereka mengundang ku datang.
“
Kak,” perkenalkan ini adalah Pak Ridho Dosen yang mungkin Kakak juga sudah mengenalnya.
Pak perkenalkan ini adalah Farid yang sering aku ceritakan pada Bapak. “
Aku dan Pak Ridho saling berjabat tangan
dan Pak Ridho serta merta memeluk ku dengan penuh rasa persahabatan. Aku
sebenarnya bingung.
“Ada
apa sebenarnya? “
Tanya itu terus menghantui pikiran ku.
menjadi virus yang terus mampu memback up dirinya berulang-ulang, walau aku
berikan antivirus handal. Ruangan kafe tempat kami bertemu itu sejenak hening
padahak tempat itu begitu ramai pengunjung. Kami bertiga saling pandang memainkan
bola mata yang entah didalamnya terekam suatu reka masalah yang ingin
disampaikan. Sesaat bola mataku bertemu dengan bola mata Ningsih. Matanya yang
dihiasi bulu mata yang lentik membuatnya tambah jelita ku pandang, sore itu.
Tak bosan aku ingin memandangnya. Namun semua itu aku sembunyikan karena rasa
gengsi yang memang selalu merajam dalam jiwa ku. sulit bagi ku untuk mengakui
keindahan yang suatu saat akan membunuh ku secara perlahan karena keindahannya.
“
Farid… Apakah kau mencintai Ningsih? “
Pertanyaan dari Pak Ridho membuyarkan
khayalan ku. Mata ku terbelalak dan spontan ku telan ludah ku dalam-dalam.
“Iya
Pak…” aku sangat mencintai Ningsih. “
Aku menjawab sedikit gugup. Pertanyaan
itu semakin membuat pertanyaan baru terus menjamur dalam otak ku. Apa sebenarnya
maksud Ningsih dengan semua ini. Apakah ada hal yang salah yang pernah aku
perbuat terhadapnya hingga dia harus membawa ku kehadapan Pak Ridho Guru Besar yang sangat aku segani karena
pemikiran hidupnya yang penuh dengan aplikasi disegala bidang termasuk Bidang Computer yang menjadi salah satu
hobi ku itu. aku seperti orang bodoh yang kehilangan ideologinya saat itu.
“Aku
kesini untuk mendengarkan apa yang akan mereka ucapkan pada ku. apa pun itu aku
harus siap menerimanya. “
Ku kuatkan diriku dengan kata-kata itu.
sesekali aku tersenyum pada mereka untuk menghilangkan ke kakuan yang mulai
terasa. Sedang Ningsih hanya tertunduk diam menyimak apa yang akan diucapkan
Pak Ridho, seakan menanti suatu kalimat handal yang mematikan bagi ku. satu jam
sudah kami duduk dikafe itu. ku teguk minuman fanta menyegarkan. Merangsang saraf semangat ku untuk tetap bisa
tegar ketika layu mulai menyapa ku. Mereka pun mengikuti meneguk minuman cuppucino yang tadi mereka pesan. Ku
lihat samar-samar Ningsih menatap Pak Ridho dengan pandangan yang begitu dalam
penuh makna. Seolah mengisyaratkan padanya untuk segera berbicara. Ningsih pun
mulai menggerakkan bibir merah muda yang terbalut lipstick, indah sekali ku
lihat.
“
Kak Farid,” sebenarnya saya dan Pak Ridho ingin menyampaikan bahwa kami berdua
telah bertunangan. Dan setelah wisuda nanti, kami akan melangsungkan
pernikahan. Saya tau mungkin ini adalah suatu keputusan yang tak adil bagi Kak Farid,
tapi aku telah menemukan orang yang mampu mengerti aku,memahami ingin ku, dan
bisa ada disaat aku butuh bersandar menitipkan duka ku walau hanya sejenak
saja. Terima kasih atas sebuah pengalaman berharga yang pernah Kakak berikan
pada ku, melalui sesayat senyuman yang tak pernah tertuju pada ku. Kakak adalah
orang yang sangat baik. Aku mengambil keputusan ini bukan karena Kakak tak baik
untukku tapi kakak adalah amanah kehidupan untuk diri Kakak sendiri yang
nantinya akan diamanahkan pada orang yang berhak mendapatkan amanah itu untuk kakak.
Ku harap Kakak bisa menerima keputusan
ku ini dengan tangan terbuka dan penuh keikhlasan. Ku tahu Kakak adalah
laki-laki yang kuat, mampu menerjang aral yang ada layaknya virus yang terus
mampu bereflikasi, menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Ku yakin suatu saaat
Kakak akan temukan orang yang jauh lebih amanah dibandingkan aku. “
Begitu indah kenyataan yang dia ucapkan
itu. tak terasa air mata ku menetes dipipi ku. Itu untuk pertama kalinya aku meneteskan
air mata untuk seorang wanita yang hadir dalam hidup ku. Aku tak pernah
menyangka dia yang selalu menjadi motivasiku dan hanya bisa tersenyum melihatku
dari kejauhan mampu sebijak itu dalam mengambil keputusan yang pasti sangat
sulit untuk dia ambil, aku salut padanya. Meskipun sesungguhnya hati terasa
tertusuk duri kaktus raksasa. Tapi itu tak jadi masalah bagiku karena ku yakin
akan satu hal bahwa pilihannya saat itu adalah pilihan yang tepat. aku pun
berusaha untuk tersenyum dihadapan mereka meskipun air mata ku terus menetes
hingga terlihat genangannya dimeja itu. Pak Ridho menepuk bahu ku, tak ada ku
lihat rasa kemenangan yang tersunging diwajahnya yang tampan itu. dia malah
seolah ingin memberikan ku kekuatan dan keyakinan bahwa keputusan hari ini tak
seburuk keputusan yang nanti aku akan temui.
“Farid…”
ku tahu kau mencintai Ningsih. Aku pun sangat mencintainya. Dia juga
mencintaimu dengan keihlasan hatinya. Namun, apakah kau tau mengapa dia bisa
mengambil keputusan yang sulit ini? Dia mampu mengambil keputusan ini karena
rasa cintanya padamu yang begitu besar. Aku tak menyalahkan mu akan sikap yang
selama ini kau sematkan dalam hidup Ningsih. Karena ku yakin akan satu hal
bahwa kau sebenarnya masih merancang kehidupan mu yang masih menerawang asa
yang tak kunjung kau temui. Tak ada orang yang jahat didunia ini hanya saja
tiap individu yang hidup dan masih mampu bernafas dengan nafas hidup yang
sesungguhnya mempunyai target hidup yang berbeda-beda yang selalu ingin
dipenuhi dengan berbagai cara. Kau adalah laki-laki yang kuat. Aku yakin akan
hal itu. maka itu izinkanlah aku dan Ningsih mengikat cinta ku dan cintanya
dengan cinta mu dalam suatu ikatan bahtera rumah tangga.”
Ku hanya terdiam dan terus meneteskan
air mata ku. Aku tak tau entah apa makna air mata yang menetes deras ini. Entah
rasa haru, bahagia, ataukah rasa mengasihani diriku. Aku tak bisa ungkapkan apa
yang tertera dalam hatiku saat itu. Yang ku tahu hanyalah saat ini aku sedang
belajar mengenal kehidupan dan mengenal diri ku melalui orang-orang bijak yang
dikirimkan Tuhan untuk ku. Aku sangat bahagia melihat dia akan bersanding
dengan orang yang bisa membawanya ke kehidupan yang layak dan harmonis. Pak
Ridho berdiri dari duduknya dan memeluk ku erat sekali dan diciumnya ubun-ubunku
dengan penuh rasa sayang. Aku sangat bahagia bertemu orang-orang seperti
mereka.
Masalah cinta yang banyak diselesaikan oleh
banyak remaja dengan kekerasan dan perdebatan argument yang berkepanjangan
hingga membuat tali silaturrahim terputus tak berlaku lagi dalam prinsip hidup
ku. aku merasa sangat dihargai oleh mereka berdua. Tak heran, ku lihat Ningsih
mengenakan gaun itu. Dia memang pantas aku berikan title seorang muslimah
soleha. Cinta mereka dilandaskan pada agama yang kokoh dan komitmen yang kuat
untuk membina bahtera rumah tangga yang bahagia dunia dan akhirat. Setelah lama
aku larut dalam tangisan ku itu. aku pun mulai menyisipkan senyuman dibibirku
yang lembab karena air mata ku. ku lihat Ningsih juga meneteskan air matanya
dengan senyuman yang aku tak tau maknanya. Mungkin dia merasa bahagia berada
disamping Pak Ridho dengan ikatan cinta yang akan aku sematkan pada mereka
berdua. ku lihat lagi Pak Ridho matanya berkaca-kaca seolah ingin menitikkan
air matanya juga. Namun Pak Ridho adalah orang yang tangguh dan sangat
bijaksana, pantang baginya meneteskan air mata.
“Ningsih…”
ku berikan cintaku ini untuk kau jadikan pengikat cinta mu pada Pak Ridho.
Mulai saat ini aku hanyalah sahabat untuk mu yang akan selalu ada untuk mu jika
kau membutuhkanku. Pak Ridho, Bapak adalah orang yang sangat aku hormati dan
aku hargai. Aku menyerahkan cinta ku bukan karena kedudukan bapak. Tapi aku
memberikan ini karena aku yakin bapak adalah imam yang baik untuk Ningsih. Hari
ini aku belajar menjadi orang ikhlas dari keihlasan kalian menerimaku dalam
cinta yang kalian miliki walau itu hanyalah sebuah fatamorgana yang tak dapat
kita tembus dengan mesin waktu sekalipun. “
Setelah berkata demikian aku pun meraih
tangan kanan Ningsih dan Pak Ridho. Ku satukan mereka diatas telapak tangan ku
sebagai suatu symbol bahwa aku telah mengizinkan mereka bersama dan
mengikhlaskan Ningsih bersama cintanya itu. mereka berdua menatap ku dengan
pandangan penuh pancaran kasih sayang dalam rahmat Tuhan yang maha agung. Setelah
itu aku pun berpamitan pada mereka berdua tepat pukul 19.00 malam karena waktu
maghrib telah tiba. Aku menuju ke Masjid dekat kafe itu untuk melaksanakan
sholat Magrib dan kemudian usai
sholat aku melanjutkan dateline yang
telah menantiku.
Sejak itu aku pun tak pernah berani
memberikan cinta ku pada yang lain. Aku tak mau mencintai mereka jika aku belum
siap untuk mencintai dengan segala kelebihan dan kurang yang aku miliki. Hampir
dua tahun sudah pristiwa itu berlalu dan selama itu pula aku tak pernah
mengenal yang namanya pacaran lagi. Meskipun sebenarnya hasrat untuk mempunyai
orang yang ku cintai dan mencintaiku masih ada dalam diri. Namun aku selalu
berusaha untuk menekan semuanya karena aku tak mau ada yang terluka lagi.
Segera ku tersadar dari lamunanku
tentang ningsih yang memang tak pernah dapat aku hilangkan dari memory otak ku.
“Itu
adalah masa laluku yang harus aku jadikan pelajaran hidup. Tapi bukan malah
sebaliknya. Aku tak sepantasnya menjadikan kegagalan yang aku alami menjadi
penghalang langkahku dalam mencari cinta yang terus terukir indah bak
fatamorgana yang ada dipadang pasir. Begitu menggiurkan namun untuk sampai
ketempat itu sungguh hal yang penuh dengan jalan yang bertubi-tubi, dan belum
tentu apa yang kita lihat itu sama dengan kenyataan yang ada.”
Tiba-tiba terlintas senyuman indah Hamida
dihadapan ku. kasihan dia pikir ku. Padahal aku juga mencintainya tapi hanya karena
ego ku aku tak bisa mencintainya. Begitu banyak air matanya yang telah terbuang
percuma, karena dia tak mampu menampung cinta yang begitu besar untukku. Maafkan aku Hamida. Suatu saat ketika aku
sudah kembali ku akan menjemputmu dengan membawa bingkisan cita-cita yang telah
aku raih. Cinta ku akan aku hadiahkan pada mu. Bukan cinta fatamorgana tapi cinta
yang benar-benar cinta yang berlandaskan iman dan takwa.
”Ku
mencintai mu karena cita-cita dan kau mencintai ku untuk menggapai cita-cita.“